Ritual Melasti Jelang Hari Raya Nyepi, Ribuan Umat Hindu Sucikan Diri di Pantai Marina Semarang

Ahmad Antoni
Umat Hindu mengikuti Upacara Melasti di area Pantai Marina Semarang, Minggu (15/3/2026) pagi. (foto-foto: iNewsSemarang.id)

"Beberapa kota seperti Kudus, Pati, dan Demak sekarang mengikuti kegiatan di Jepara. Jadi di sini terlihat sedikit lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya," sebutnya.

Meski begitu, kondisi tersebut tidak mengurangi kekhidmatan upacara. Sebab inti dari Melasti adalah pembersihan spiritual sebelum umat menjalani Hari Raya Nyepi.

"Melasti bermakna pembersihan. Bukan sekadar tradisi, tapi proses spiritual sebelum kita memasuki Nyepi," jelasnya.

Rangkaian Perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1948
Setelah Melasti, rangkaian perayaan Nyepi masih berlanjut. Pada 18 Maret 2026 umat Hindu akan melaksanakan Tawur Kesanga, ritual penyeimbangan alam. Puncaknya berlangsung pada 19 Maret 2026 saat umat menjalani Catur Brata Penyepian selama 24 jam.

Dalam masa hening itu, umat tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, serta tidak menikmati hiburan. Semua aktivitas dihentikan untuk melakukan introspeksi diri.

“Nyepi pada dasarnya adalah introspeksi diri. Kita melihat apa yang sudah dilakukan dan memperbaikinya untuk masa depan,” kata Puja.

Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Semarang yang memfasilitasi lokasi kegiatan sehingga lebih tertata dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sehingga, Melasti juga memiliki potensi sebagai bagian dari budaya yang dapat mendukung pariwisata kota.

"Kalau kita lihat di Bali, kegiatan budaya seperti ini menjadi aset pariwisata. Harapannya ke depan fasilitas di sini semakin baik sehingga bisa memberi kontribusi bagi pariwisata Kota Semarang," ujarnya.

Kebersamaan dan Keberagaman di Semarang
Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Semarang R. Wing Wiyarso Poespojoedho mengatakan, kegiatan Upacara Melasti menjadi bukti nyata keberagaman yang hidup di Kota Semarang. 

Menurutnya, kehadiran umat Hindu dari berbagai daerah menunjukkan, bahwa Semarang merupakan kota yang menghargai kebersamaan dan keberagaman. 

Wing menambahkan, pada 2026 beberapa hari besar keagamaan dari berbagai agama berlangsung hampir bersamaan. Namun kondisi itu justru menunjukkan kuatnya toleransi di Kota Semarang.

"Ketika perayaan hari agama dilaksanakan di Semarang, kegiatan itu didukung bahkan ada keterlibatan dari teman-teman umat agama yang lain," ujarnya.

Editor : Ahmad Antoni

Sebelumnya

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network