Warga Desa Tlogowatu, Kecamatan Kemalang, Klaten, Hartoyo mengatakan, krisis air bersih sudah menjadi persoalan turun-temurun di wilayahnya. Hampir setiap rumah mengandalkan tandon penampung air hujan saat musim hujan. Namun ketika kemarau datang, persediaan hanya mampu bertahan sekitar dua bulan, sebelum akhirnya warga terpaksa membeli air.
"Harga satu tangki bisa Rp170 ribu sampai Rp220 ribu, tergantung lokasi. Bantuan BPBD sangat membantu, terutama bagi warga yang ekonominya kurang mampu. Kami sangat berterima kasih," kata Hartoyo.
Menurutnya, bantuan air bersih yang disalurkan melalui bak penampungan umum, membuat banyak keluarga tetap bisa memenuhi kebutuhan pokok. Meski begitu, sebagian warga yang memiliki kebutuhan air lebih besar, seperti untuk ternak, mereka masih harus membeli air sendiri.
Bahkan untuk mandi dan mencuci, tidak sedikit warga yang rela turun ke wilayah bawah Kemalang, yang masih memiliki sumber air. "Terima kasih dan Alhamdulillah sekali bantuan dari BPBD ini," ujarnya.
Hal senada disampaikan warga RT 5 RW 3, Sarno Nanto Suwiryo. Dia mengungkapkan, keluarganya hampir setiap tahun menghadapi kondisi kekurangan air bersih. Berulang kali mencoba membuat sumur dalam, hasilnya tetap nihil.
"Kami hanya mengandalkan tandon air hujan. Kalau habis ya beli air atau menunggu bantuan pemerintah. Terima kasih karena BPBD selalu membantu kami saat kemarau," ujarnya.
Kepala Desa Tlogowatu Suprat Widoyo mengatakan, pemerintah desa bersama BPBD menyiapkan bak penampungan air di setiap RT, agar warga yang tidak mampu membeli air tetap bisa mendapatkan pasokan. Jika stok habis, desa segera mengajukan dropping air berikutnya kepada BPBD.
"Selama ini memang masih banyak mengandalkan dari bantuan BPBD untuk dropping air bersih ke tempat warga, ataupun ke bak-bak penampungan umum milik desa yang kita sediakan di tiap RT," jelasnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
