Adapun di perdesaan, selain beras dan rokok kretek filter, komoditas yang memberi kontribusi besar terhadap garis kemiskinan meliputi telur ayam ras, daging ayam ras, kopi bubuk dan kopi instan, bawang merah, tempe, roti, tahu, serta gula pasir.
Ali menambahkan, BPS juga mencatat persentase penduduk miskin di perkotaan lebih rendah dibandingkan perdesaan. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin di perkotaan mencapai 8,59 persen, sedangkan di perdesaan sebesar 9,96 persen.
Pada kesempatan yang sama, BPS Jawa Tengah juga memublikasikan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan II 2026, yang mencapai 5,71 persen secara tahunan (year on year). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,29 persen.
Sementara itu, dibandingkan triwulan sebelumnya, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 1,72 persen (quarter to quarter). Adapun secara kumulatif semester I 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,80 persen (cumulative to cumulative).
"Kontribusi Jawa Tengah terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen atau sebesar 8,19 persen terhadap perekonomian nasional. Hal tersebut menempatkan Jawa Tengah sebagai kontributor perekonomian terbesar keempat secara nasional," ujarnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
