“Kami mengajak masyarakat untuk tidak berhenti mengirimkan doa baik bagi mereka dan keluarga. Semoga keluarga yang menanti diberi kekuatan dan ketabahan,” imbuhnya.
Peristiwa ini sekaligus menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa tidak ada berita yang seharga dengan nyawa. Jurnalis memang memiliki tanggung jawab menyampaikan informasi kepada publik, termasuk dari lokasi bencana.
Namun, keselamatan harus tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kerja jurnalistik. Kecepatan dan eksklusivitas berita tidak boleh ditempatkan di atas keselamatan manusia.
Keselamatan Jurnalis Harus Jadi Prioritas
KKJ Jateng dan DIY mengimbau jurnalis dan pers mahasiswa untuk selalu berhati-hati ketika meliput situasi rawan, terutama bencana alam. Sebelum berangkat, jurnalis perlu memahami kondisi lokasi, potensi bahaya, perkembangan cuaca, serta informasi dan peringatan dari otoritas terkait.
Jurnalis juga perlu memastikan redaksi atau rekan kerja mengetahui lokasi dan rencana peliputan, menyiapkan komunikasi serta jalur evakuasi, dan menggunakan perlengkapan keselamatan yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Jika situasi berubah menjadi berbahaya, jurnalis harus berani menghentikan peliputan dan tidak memaksakan diri demi mendapatkan gambar atau informasi eksklusif.
Keselamatan jurnalis bukan hanya tanggung jawab mereka yang berada di lapangan, tetapi juga tanggung jawab perusahaan media. KKJ Jateng dan DIY mendesak perusahaan media untuk tidak memberikan penugasan di wilayah bencana tanpa melakukan penilaian risiko dan menyiapkan mitigasi keselamatan.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
