Taufiq Muhammad, yang lahir pada 1978 di Sorong, Indonesia, pernah bekerja sebagai sopir taksi di Jakarta dan sempat bekerja di Amerika Serikat (AS). Menurut HUR, perekrut Rusia menemukan Taufiq melalui daftar riwayat hidup (CV) yang dikirimkannya ketika sedang mencari pekerjaan.
Dia kemungkinan tergiur janji mendapatkan "uang dengan mudah" hingga akhirnya berangkat ke Moskow. HUR menilai kasusnya merupakan bagian dari pola perekrutan serupa. "Faktanya, dia kembali menjadi korban skema Rusia yang merekrut warga negara asing untuk terlibat dalam perang kriminal melalui tipu daya," kata HUR.
Jadi Penembak Senapan Mesin, Taufiq Tewas dalam Pertempuran Pertamanya
Taufiq menandatangani kontrak selama satu tahun dengan militer Rusia di Korolyov, dekat Moskow, pada 19 April 2026. HUR menyebut masa kontrak tersebut lazim diberlakukan terhadap warga negara asing yang direkrut Rusia dan digunakan sebagai infanteri yang dianggap "sekali pakai".
Rusia menempatkannya sebagai penembak senapan mesin. Dia hanya menjalani pelatihan selama satu setengah minggu di sebuah pusat pelatihan dekat Voronezh, menurut laporan Army Inform yang mengutip HUR. Pada awal Mei, Rusia mengirim Taufiq ke wilayah Ukraina yang diduduki pasukannya.
Dia tewas hampir seketika dalam pertempuran pertamanya. Saat itu, pasukan Rusia berusaha maju dari Desa Zelena Dolyna menuju Novoselivka dan Drobysheve di Oblast Donetsk, menurut laporan Militarnyi. Perekrut Rusia dilaporkan telah menjalankan aktivitas perekrutan di Indonesia selama berbulan-bulan.
Pada Agustus, Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina mengungkapkan bahwa mereka memiliki dokumen mengenai sedikitnya delapan warga Indonesia yang direkrut ke dalam militer Rusia. Warga Indonesia lainnya, Rendi Apriyanto (30) dilaporkan tewas pada September. Keluarganya memperoleh kabar tersebut dari seorang warga Indonesia yang ikut berperang untuk Rusia.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
