get app
inews
Aa Text
Read Next : Menag Yaqut: UIN Walisongo Semarang Harus Menyiapkan Aktor Perubahan

Sains Ramadhan: Potensi Pendidikan Profetik Puasa Ramadhan

Kamis, 07 April 2022 | 09:28 WIB
header img
Banyak kekhasan Ibadah puasa Ramadhan (Foto: Pixabay).

SEMARANG. iNewsSemarang.id - Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Puasa Ramadhan bagi umat Islam adalah merupakan suatu kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan, sebab perintah berpuasa adalah perintah yang bersifat pasti (Qath’i) yang tidak dapat ditawar-tawar oleh siapapun juga, dengan catatan telah memenuhi syarat dan rukunnya. 

Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Al Qur'an yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu menjadi orang yang bertaqwa”. (Q.S. Al-Baqarah : 183). 

Universal

Ibadah puasa termasuk ibadah yang sudah lama diturunkan, bersifat universal dan sangat indah sekali untuk kita laksanakan,  sebab berdasarkan informasi yang disampaikan Alquran, ibadah ini telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad SAW. 

Sekalipun tak disebutkan sejak kapan dan oleh umat yang mana, namun diyakini bahwa seluruh umat telah melaksanakannya. Hal ini dibuktikan dengan berbagai catatan sejarah, yang menyebutkan bahwa hampir semua bangsa-bangsa yang ada di dunia melaksanakan apa yang disebut dengan berpuasa. Hanya saja, syarat, rukun, tujuan, waktu, niat dan tata caranya yang berbeda antara satu sama yang lain.

Berdasarkan kajian para ahli dan literatur ilmiah yang ditemukan, bahwa bangsa India, Cina, Mesir Kuno, Yunani, Yahudi, Romawi, Persia, Jawa Kuno, Arab Jahiliyah, Buddha, Hindu, dan termasuk dalam agama-agama yang dianut penduduk bumi, baik agama samawi maupun agama duniawi, masing-masing telah mengajarkan dan mengamalkan puasa pada hari atau bulan tertentu dalam setiap tahun. 

Bukan hanya itu, puasa telah digunakan orang tertentu untuk berbagai kepentingan seperti kepentingan politik, dengan melakukan mogok makan selama beberapa hari tertentu, sampai dengan tuntutan keinginannya dipenuhi, bahkan ada yang menjahit mulutnya, sehingga tidak bisa makan dan minum. 

Puasa juga telah digunakan orang untuk kepentingan menjaga kelangsingan tubuh, sebab dengan tidak makan dan minum akan dapat mempertahankan berat badan.  

Selain itu, puasa juga telah digunakan untuk kepentingan operasi, dengan tidak boleh makan dan minum dalam jangka waktu tertentu, sebelum dilaksanakannya operasi. 

Puasa bukan hanya dilakukan oleh manusia, tetapi hewan pun melaksanakannya, dalam rangka kelangsungan dirinya.  Seekor ulat melakukan puasa, sehingga dirinya berubah menjadi kepompong, kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang sangat cantik.       

Keunikan puasa Ramadhan
Ibadah puasa Ramadhan yang diwajibkan bagi umat Islam berbeda dengan puasa yang dilakukan oleh umat-umat sebelumnya, termasuk pelaksanaan puasa untuk kepentingan tertentu, seperti kepentingan politik, kelangsingan tubuh, perubahan bentuk bagi hewan dan lain sebagainya. 

Terdapat beberapa kekhasan tersendiri terkait Ibadah puasa Ramadhan dalam pandangan agama Islam. Berikut diantara kekhasan puasa Ramadhan:

1. Waktu. 

Puasa hanya diwajibkan sebulan dalam setahun selama kurang lebih 13 jam dalam sehari semalam.  Masa waktu demikian merupakan ambang batas kemampuan seseorang untuk melakukan puasa (menahan makan dan minum) pada umumnya. Karena hal tersebut sangat manusiawi.

Di luar itu, boleh makan, minum dan melakukan hubungan seks antara suami istri. Bandingkan dengan puasa ‘ngembleng’, bertapa sampai berhari-hari non stop dan sebagainya.  Dapat dibayangkan jika orang disuruh bertapa atau berpuasa sehari-hari, apa yang akan terjadi? Badan bisa celaka, karena kekurangan makanan dan cairan. Makanya Islam melarang puasa secara terus menerus, sebab tidak baik untuk kesehatan.

2. Pantangan. 

Islam hanya melarang makan, minum, hubungan seks dan berbagai perbuatan tercela, haram, maksiat lainnya. Dalam Islam tidak diajarkan puasa mutih, patigeni dan ngembleng, di mana pantangan dan cegahannya lebih banyak dan aneh-aneh, serta tidak masuk akal sehat. 

Pantangan tersebut masih dalam batas kewajaran dan kesesuaian dengan kondisi fisik. Atas dasar itu, tidak wajib berpuasa bagi yang tidak mampu dan orangtua yang sudah uzur. Puasanya dapat diganti dengan membayar fidyah.

3. Tujuan. 

Tujuan puasa adalah menjadi insan bertaqwa menuju insan kamil, bahkan kalau bisa menjadi malaikat yang berbentuk manusia.  Bandingkan dengan puasa lain yang tujuannya untuk kesaktian, mahabbah, kesehatan, tubuh langsing dan sebagainya.  

Kalaupun orang yang berpuasa mendapatkan kesehatan, tubuh langsing, dan sebagainya, itu adalah bonus ekstra sebagai dampak positif dari ibadah puasa itu. Namun yang utamanya adalah untuk mencapai derajat muttaqin, suatu derajat tertinggi di hadapan Allah SWT.  

4. Cepat berbuka dan bersahur. 

Di antara sunnah-sunnah puasa dalam Islam adalah menyegerakan berbuka dan bersahur. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu berat dan menyusahkan bagi pelakunya.  

Islam menghendaki kemudahan bagi pemeluknya, bukan menghendaki kesusahan. Islam menghendaki jalan keselamatan, bukan menghendaki jalan kesesatan.

5. Diwajibkan hanya bagi yang mampu.

Dengan kata lain tidak semua diwajibkan, yang tidak mampu boleh berbuka dengan mengganti atau membayar fidyah.  

Orang sakit, orang dalam perjalanan dan bahkan ibu menyusui boleh tidak berpuasa tetapi wajib mengganti pada waktu lain. Sedangkan orang uzur yang tak mampu berpuasa, boleh tidak berpuasa, dengan catatan membayar fidyah. 

6. Manfaat dan hikmah

Manfaat puasa dalam Islam adalah all in one artinya manfaat utama menjadikan diri manusia bertaqwa. Insya Allah akan didapat.  Sementara manfaat ekstra seperti kesehatan, keselamatan, kebahagiaan, kesucian, terhapusnya dosa dan segudang manfaat lain yang kita peroleh.
Bermanfaat

Oleh karena itu, jelaslah bahwa puasa Ramadhan yang akan kita jalankan sangat  bermanfaat, lengkap dan yang lebih penting mampu membuat kita menjadi insan yang keinginannya hanya kebaikan dan ketaatan, jauh dari mengikuti hawa nafsu, dan bahkan justru mengendalikan serta mengarahkan hawa nafsu. 

Untuk itu, mari kita jadikan bulan Ramadhan ini dengan penuh suka cita, dengan memperbanyak amal saleh, buat membakar dosa-dosa kita, sehingga begitu keluar dari Ramadhan, dosa sudah terbakar habis, kembali jiwa kita suci bersih, bagaikan kertas putih tiada noda, dalam hadits digambarkan seperti seorang anak ketika dilahirkan oleh ibunya.

Penulis: Dr. H. Nur Khoiri, M.Ag Dosen Pendidikan Biologi Fakultas Saintek UIN Walisongo Semarang

Editor : Miftahul Arief

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut