Rupiah Hari Ini Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Terendah Sejak Krisis Moneter 1998
Ibrahim menjelaskan bahwa sentimen negatif dari dalam negeri dipicu oleh langkah Fitch Ratings yang menurunkan prospek Indonesia menjadi negatif. Salah satu poin krusial yang disoroti adalah rendahnya rasio pajak (tax ratio) Indonesia dalam sepuluh tahun terakhir.
“Dalam satu dekade terakhir, tax ratio Indonesia selalu berada di kisaran 9% hingga 10% terhadap PDB. Bahkan, angkanya cenderung menurun seperti yang terjadi pada tahun lalu dari 10,08% pada 2024 menjadi 9,31% pada 2025,” ujar Ibrahim dalam risetnya.
Selain itu, program belanja sosial pemerintah yang masif, khususnya Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diprediksi memakan porsi 1,3 persen terhadap PDB selama periode 2025–2029, turut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap keberlanjutan disiplin fiskal.
Terdampak Eskalasi Perang AS-Israel vs Iran
Dari sisi global, pasar masih dibayangi oleh ketegangan geopolitik antara AS, Israel, dan Iran yang kini memasuki hari ketujuh.
Eskalasi ini telah memicu lonjakan harga minyak mentah yang berisiko menciptakan gelombang inflasi baru dan menghambat kebijakan penurunan suku bunga global.
“Harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu inflasi dan dapat membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat,” pungkas Ibrahim.
Situasi ini memaksa investor untuk lebih memilih aset aman (safe haven) seperti dolar AS, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk Rupiah.
Editor : Ahmad Antoni