Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Kisah Ngadiyanto, Belasan Tahun Hidup di Tengah Kepungan Rob Kini Punya Rumah Layak Huni
Advertisement . Scroll to see content

Kisah Mak Jah, Pejuang Lawan Abrasi di Sayung Demak Dihadiahi Rumah Apung dari Pemprov Jateng

Minggu, 26 April 2026 | 17:40 WIB
  • author Ahmad Antoni
Kisah Mak Jah, Pejuang Lawan Abrasi di Sayung Demak Dihadiahi Rumah Apung dari Pemprov Jateng
Pasijah atau akrab disapa Mak Jah, pejuang melawan abrasi di Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, Sayung, Demak, hingga kini masih aktif membibit, menanam dan merawat mangrove. (foto: istimewa)

DEMAK, iNewsSemarang.id - Pasijah atau akrab disapa Mak Jah, pejuang melawan abrasi di Dusun Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, hingga kini masih aktif membibit, menanam dan merawat mangrove. 

Perempuan berusia 56 tahun yang bersama keluarganya tetap bertahan di rumahnya meski dikelilingi laut, kini mendapat hadiah rumah apung dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Mak Jah menceritakan, dulu, wilayah tersebut merupakan desa yang subur. Hamparan sawah dan lahan palawija, menjadi sumber penghidupan warga. Berbagai tanaman seperti pisang, cabai, padi, pepaya hingga kelapa, tumbuh dengan baik. Namun sekitar tahun 2000, air rob mulai sering datang dan perlahan mengubah wajah desa.

“Dulu desa ini awalnya petani, ada sawah, palawija, semuanya ada. Tapi sejak tahun 2000 mulai sering kena rob. Lama-lama airnya makin naik, makin tinggi,” kisahnya.

Kondisi semakin parah hingga sekitar tahun 2010, sebagian besar wilayah telah berubah menjadi lautan. Warga satu per satu meninggalkan kampung halaman. Dari sekitar 200 kepala keluarga, kini hanya keluarga Mak Jah yang bertahan.

Di tengah kondisi itu, Mak Jah memilih untuk tidak pergi. Dia justru berjuang menjaga tanah kelahirannya, dengan menanam mangrove secara mandiri. Upaya tersebut dimulai dari skala kecil di sekitar rumahnya.

“Saya mulai tanam sedikit demi sedikit. Karena kurang bibit, saya buat sendiri. Alhamdulillah berkembang. Ada juga yang kirim dari jauh,” ungkapnya.

Ketelatenannya berbuah hasil. Kawasan di sekitar rumahnya kini mulai ditumbuhi mangrove yang berfungsi menahan abrasi, sekaligus menjadi habitat ikan, kepiting, udang, dan burung. Perjuangannya membuat Mak Jah dikenal sebagai “pejuang terakhir”, hingga dijuluki “Kartini Laut Sayung”.

Hidup di tengah genangan laut tentu bukan tanpa tantangan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Mak Jah harus menempuh perjalanan menggunakan perahu selama 15 hingga 30 menit menuju daratan, kemudian melanjutkan perjalanan dengan sepeda ke pasar.

“Kalau ombak besar ya sulit. Kadang tidak bisa tidur. Tapi saya sudah terbiasa. Yang penting sehat dan bisa bekerja,” ujar Mak Jah.

Rumah yang ditempati pun dirawat secara mandiri, dengan cara ditinggikan sedikit demi sedikit menggunakan pasir dan semen. Material dari rumah-rumah yang telah roboh juga dimanfaatkan kembali untuk memperkuat bangunan.

Di tengah perjuangannya itu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) memberikan bantuan berupa rumah apung. Bantuan tersebut diberikan atas perhatian Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.

Editor: Ahmad Antoni

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut