Kisah Ngadiyanto, Belasan Tahun Hidup di Tengah Kepungan Rob Kini Punya Rumah Layak Huni
Kini, rumah yang berdiri di atas air itu menjadi ruang baru bagi keluarga Ngadiyanto untuk menata kehidupan. Tidak lagi sekadar bertahan dari datangnya rob, tetapi mulai merasakan tempat tinggal yang lebih layak dan nyaman.
Bagi Sri Ningsih, rumah tersebut bukan hanya bangunan. Ada rasa lega setelah bertahun-tahun keluarganya hidup dalam bayang-bayang air laut. Rumah apung itu seolah menjadi penanda, meski daratan terus terkikis, harapan tidak harus ikut tenggelam.
“Sekarang punya rumah apung, rasanya senang sekali. Anak-anak bisa nyaman bermain dan belajar. Dulu kan kalau mau tidur harus menunggu kering dulu, sekarang sudah tidak lagi,” ungkapnya.
Di tengah peringatan 81 tahun Jawa Tengah, kisah Ngadiyanto dan sri Ningsih menjadi potret kecil tentang arti sebuah bantuan bagi mereka yang hidup di wilayah pesisir. Ketika tanah tak lagi mampu menjadi tempat berpijak, rumah apung menjadi cara untuk tetap bertahan.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Jawa Tengah, Boedyo Dharmawan mengatakan, bantuan rumah apung merupakan bagian dari upaya pemerintah, menghadirkan hunian yang lebih layak bagi masyarakat yang terdampak rob dan abrasi.
Di bawah kepemimpinan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, Pemprov Jateng telah menyalurkan sejumlah bantuan rumah apung di wilayah terdampak. Pada 2025, terdapat tiga unit rumah apung melalui CSR Bank Jateng dan Pemkab Demak, yang diperuntukkan bagi Mulyono, Romani, dan Muslim.
Program tersebut berlanjut pada 2026. Sebanyak tiga unit rumah apung kembali dibangun melalui CSR Bank Jateng untuk Ngadiyanto, Krisma, dan Rokani. Selain itu, sembilan unit lainnya sedang berjalan melalui APBD murni 2026, serta delapan unit direncanakan melalui APBD Perubahan 2026.
Editor: Ahmad Antoni