JAKARTA, iNewsSemarang.id - Indonesia mengalami peningkatan nilai perdagangan ekspor yang cukup tinggi, yakni sebesar 268 miliar dolar AS. Menurut penjelasan Airlangga Hartarto, selaku Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, peningkatan tersebut didorong oleh berbagai komoditas utama seperti besi baja, bahan bakar fosil, dan minyak kelapa sawit atau crude palm oil(CPO).
“Batu bara bisa mengompensasi impor daripada minyak sehingga kita di bidang energi ini positif sebesar hampir 6,8 billion secara year to date, sedangkan iron and steel 29 billion, dan CPO sekitar 30 billion. Sehingga tentu ini menunjukkan bahwa ekspor Indonesia relatif kuat,” kata Menko Airlangga dalam keterangannya usai Rapat Terbatas (Ratas) di Istana Merdeka, Rabu (11/1/2023).
Tambah Menko Airlangga, pertumbuhan ekspor tahun ini diproyeksikan pemerintah akan tetap positif. Namun akan lebih melambat daripada tahun sebelumnya. Berdasarkan proyeksi pemerintah, nilai ekspor meningkat di 12,8 persen dan nilai impor di 14,9 persen.
“Tahun 2022 ekspor kita tumbuh 29,4 persen, impor tumbuh 25,37 persen. Tahun depan (2023) diproyeksikan, karena kita basisnya sudah tinggi, ekspornya naik di 12,8 (persen), impornya 14,9 persen,” ujarnya.
Saat ratas, dia menyampaikan arahan Presiden Jokowi kepada jajarannya agar cadangan devisa juga meningkat mengikuti pertumbuhan nilai ekspor yang positif kali ini.
Editor : Agus Riyadi
Artikel Terkait