“Teknologi ini memberikan solusi bagi konsumen yang masih memiliki kekhawatiran soal jarak tempuh dan pengisian daya. Dengan DM, pengguna memiliki fleksibilitas karena tetap ada opsi menggunakan bahan bakar,” ujarnya.
BYD juga memilih menghadirkan produk yang sesuai dengan karakter konsumen Indonesia. Luther menyebut masyarakat Indonesia cenderung mencari kendaraan yang memiliki kapasitas besar, kuat, nyaman, serta harga yang mudah dijangkau.
“Karakter kendaraan yang diinginkan masyarakat Indonesia adalah kendaraan yang bisa membawa banyak penumpang, durable, kuat, dan tentu dengan harga yang terjangkau,” ungkapnya.
Terkait harga khusus di wilayah Semarang dan daerah lain, Luther menyebut pihaknya masih melakukan kalkulasi karena menyesuaikan sejumlah komponen biaya daerah.
“Untuk wilayah Semarang masih kami kalkulasi lagi, tetapi secara nasional harganya mulai Rp298 juta sampai Rp380 juta,” sebutnya.
Luther menambahkan, distribusi BYD M6 Dual Mode sudah mulai berjalan di sejumlah daerah. Saat ini BYD masih menyesuaikan antara ketersediaan unit dengan jumlah pemesanan konsumen.
“Antusias masyarakat cukup tinggi setelah kami memperkenalkan harga. Jumlah peminatnya sudah mencapai ribuan, sehingga kami masih melakukan kalkulasi supply dan order,” katanya.
Untuk wilayah Jawa Tengah, BYD melihat kepercayaan masyarakat terhadap kendaraan listrik mulai meningkat. Dari sekitar 1.600 kendaraan listrik yang beredar di wilayah tersebut, BYD menyebut kontribusinya sudah mencapai sekitar 40 persen.
Menurutnya, peningkatan kepercayaan itu juga didukung oleh pengembangan jaringan penjualan. Di Kota Semarang sendiri BYD telah memiliki dua jaringan, selain di Solo, Yogyakarta, dan beberapa kota lainnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
