"Kalau kita bicara di musim ini (kemarau), debu itu pasti luar biasa. Maka penggunaan masker itu menjadi penting. Kemudian tidak banyak keluar rumah. Kalau aktivitasnya banyak di luar rumah, banyak minum air putih. Artinya, tetap waspada dan tidak khawatir berlebihan," sebutnya.
Kepala Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Yoga Sambodo mengatakan, pihaknya mengacu pada data yang dirilis oleh Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin dan analisis citra satelit BMKG Himawari. Dari analisis tersebut, angin permukaan yang berada pada ketinggian 1.500 meter bergerak dari timur ke barat.
"Jadi kenapa kemarin agak heboh, barangkali memang di lapisan atas itu trajektori debu vulkanik itu, diperkirakan sampai ke daerah-daerah di Jawa Tengah, tapi itu di lapisan atas. Sementara lapisan di bawahnya, anginnya ke arah dari timur ke barat," jelasnya.
Selain itu, pihaknya juga telah melakukan analisis empiris dengan melakukan paper test pada 6 dan 7 September 2026 di lingkungan Bandara Ahmad Yani Semarang. Berdasarkan uji tersebut, debu vulkanik GAK dinyatakan negatif sampai di wilayah tersebut.
Tidak hanya di Semarang, paper test juga dilakukan pada Stasiun Klimatologi Kertajati, Stasiun Meteorologi Maritim Tegal, dan Cilacap.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
