8 Fakta Rupiah Anjlok Dekati Rp18.000, Gelombang Penutupan Pabrik hingga PHK di Depan Mata
Ibrahim memperingatkan adanya potensi beban berat pada anggaran negara akibat tingginya subsidi bahan bakar minyak (BBM), mengingat 85 persen dari 1,5 juta barel minyak yang diimpor dialokasikan untuk kebutuhan subsidi.
Jika tekanan berlanjut, ia memprediksi rupiah bisa menembus level Rp18.000 hingga Rp22.000 dalam skenario terburuk. Sebagai langkah antisipasi, BI diperkirakan akan mengambil kebijakan agresif dalam pertemuan bulan depan.
“Cara satu-satunya ada kemungkinan besar Bank Sentral Indonesia dalam pertemuan bulan Juni ini akan menaikkan suku bunga, bisa 25 basis poin sampai 50 basis poin. Tujuannya untuk menstabilkan rupiah,” pungkasnya.
Namun demikian, Ibrahim menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih cukup solid, didukung oleh kepemilikan domestik yang dominan (90 persen) pada instrumen obligasi negara.
Pelemahan Rupiah sangat berpengaruh terhadap bahan baku impor termasuk harga BBM nonsubsidi. Pasalnya Indonesia net importir minyak sejak 2004.
Pakar ekonomi dan bisnis Universitas Hasanuddin Hamid Paddu menyikapi nilai tukar Rupiah yang terus anjlok. Pertengahan Mei, mata uang Rupiah tersebut memang menunjukkan tren yang semakin melemah. Bahkan pada 15 Mei, kurs Rupiah berada pada level Rp17.600 per USD.
Menurut Hamid, produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang mencapai 1,6 juta barel per hari. Sementara, produksi Indonesia hanya 650 ribu barel per hari. Artinya, lebih dari 50% kebutuhan harus dipenuhi melalui impor.
“Nah, impor tentu dibeli dengan nilai mata uang, valuta asing, dalam hal ini dolar AS. Makanya, nilai tukar sangat mempengaruhi harga BBM,” kata Hamid di Jakarta, Sabtu (16/5/2026).
Di sisi lain, Rupiah yang anjlok menjadi pukulan telak bagi industri manufaktur Tanah Air. Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku hingga barang modal impor membuat ongkos produksi pabrikan membengkak drastis di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Kondisi tersebut tidak hanya disebabkan oleh selisih kurs semata. Rantai pasok global yang terganggu sejak meletusnya perang pada Februari lalu telah mengerek biaya logistik, asuransi, hingga harga komoditas penolong seperti plastik dan energi, yang pada akhirnya membebani operasional industri.
Tekanan berat yang menimpa sektor ini tercermin pada laju Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) manufaktur Indonesia. Indikator aktivitas pabrik tersebut terus merosot dan pada akhirnya berbalik mengalami kontraksi pada April lalu.
Situasi pelik ini memaksa pabrikan memutar otak karena mereka tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual produk di pasaran. Daya beli masyarakat yang melemah membuat konsumen sangat sensitif terhadap perubahan harga.
“Jadi, pelemahan nilai tukar ini pada dasarnya memperumit kondisi industri pada saat ini. Artinya, dari sisi langkah kebijakan, stabilitas nilai tukar sangat krusial untuk meredam dampak eksternal terhadap ekonomi domestik,” kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, Sabtu (16/5/2026).
Editor: Ahmad Antoni