Perluas Kunjungan Wisatawan, Pemprov Jateng Siapkan 1.000 Desa Wisata Baru
Ina juga menikmati pengalaman memainkan gamelan. Musik tradisional Indonesia itu memiliki karakter suara yang berbeda dengan musik yang biasa didengarnya di Jerman. Pengalaman memainkan alat musik bersama masyarakat setempat, menjadi sesuatu yang menyenangkan baginya.
Senada, Anke, wisatawan asal Jerman lainnya, mengaku sangat menikmati kunjungan pertamanya ke Candirejo. Dia secara khusus mengapresiasi keramahan masyarakat yang menyambut rombongan mereka.
"Saya juga berasal dari Jerman, tepatnya dari wilayah utara dekat Hamburg. Ini pertama kalinya saya berkunjung ke sini, dan saya benar-benar menikmatinya. Semuanya sangat menyenangkan," kata Anke.
Pengalaman yang dirasakan wisatawan tersebut merupakan bagian dari konsep wisata yang dikembangkan Desa Wisata Candirejo. Wisatawan tidak hanya diajak berkunjung ke suatu tempat, tetapi juga dilibatkan dalam aktivitas masyarakat, mulai dari industri rumahan hingga kesenian tradisional.
Ketua Koperasi Desa Wisata Candirejo, Ahmad Mudhofar Ersyidik menjelaskan, desa wisata tersebut mulai dirintis pada 1996. Gagasan itu berawal dari keprihatinan pemerintah desa karena lokasinya berdekatan dengan Candi Borobudur, tetapi masyarakat belum mendapatkan manfaat ekonomi secara optimal dari keberadaan destinasi wisata tersebut.
Pemerintah desa kemudian membentuk kelompok kerja, untuk memetakan potensi wilayah. Setelah mendapatkan pendampingan dari lembaga swadaya masyarakat pada 1999, Candirejo ditetapkan sebagai proyek percontohan desa wisata Kabupaten Magelang. Desa Wisata Candirejo kemudian diresmikan pada 2003.
“Dalam perkembangannya, pengelolaan pariwisata dilakukan melalui Koperasi Desa Wisata Candirejo. Lembaga ini menjadi penghubung antara pemerintah desa, masyarakat, dan pelaku usaha dalam mengelola paket wisata,” tuturnya.
Ersyidik mengatakan, konsep yang ditawarkan adalah paket wisata berbasis aktivitas masyarakat. Di dalamnya terdapat kelompok dokar, katering, kesenian, homestay, hingga industri rumahan. Ketika wisatawan mengunjungi industri rumahan, mereka tidak sekadar ditawarkan membeli produk. Pengunjung justru diperlihatkan proses pembuatannya, agar mendapatkan pengalaman langsung.
Editor: Ahmad Antoni