JAKARTA, iNewsSemarang.id - Nilai tukar rupiah kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini. Hal itu dipicu kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), masuknya kembali modal asing ke pasar keuangan domestik, serta membaiknya sentimen terhadap prospek ekonomi nasional.
Penguatan rupiah tersebut terjadi meski pasar global masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan ketidakpastian arah suku bunga global.
"Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah," jelas Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti dalam keterangannya dikutip pada Sabtu (13/6/2026).
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat ke level Rp17.860 per dolar AS pada perdagangan Jumat, atau naik 0,72 persen dibandingkan posisi sehari sebelumnya sebesar Rp17.989 per dolar AS. Dalam sepekan, mata uang Garuda menguat 0,98 persen dari posisi akhir pekan lalu yang berada di level Rp18.036 per dolar AS.
Penguatan serupa tercermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia. Nilai tukar tersebut bergerak dari Rp18.171 per dolar AS pada awal pekan menjadi Rp17.921 per dolar AS pada akhir perdagangan Jumat, atau menguat sekitar 1,38 persen
Menurut Destry, respons positif investor terhadap bauran kebijakan moneter dan fiskal berhasil mendorong arus masuk modal asing ke berbagai instrumen keuangan domestik, termasuk Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Surat Berharga Negara (SBN), hingga obligasi internasional Danantara.
Penjualan perdana obligasi Danantara bahkan mencapai Rp26,9 triliun, yang dinilai mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap aset Indonesia.
Selain itu, BI juga memperkuat stabilitas nilai tukar melalui kerja sama regional dengan People's Bank of China (PBOC) dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) melalui perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan serta penguatan skema Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA).
Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan memperkuat ketahanan eksternal rupiah.
Bank Indonesia menegaskan akan terus menjaga stabilitas pasar melalui intervensi yang terukur serta memastikan nilai tukar bergerak menuju level fundamentalnya.
Dengan dukungan kebijakan yang konsisten dan membaiknya sentimen investor, otoritas moneter optimistis tren penguatan rupiah masih berpeluang berlanjut dalam jangka pendek.
Sementara itu, Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai kinerja rupiah sepanjang pekan ini cukup impresif karena mampu bertahan di tengah meningkatnya risiko geopolitik global.
Pasar masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, termasuk ancaman Iran untuk membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dan gas dunia.
Sisi lain, sentimen positif juga datang dari revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia. Lembaga tersebut menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5 persen dari proyeksi sebelumnya sebesar 4,7 persen.
Perbaikan outlook tersebut dinilai memperkuat keyakinan investor terhadap fundamental ekonomi nasional dan menjadi salah satu faktor yang menopang penguatan rupiah selama sepekan terakhir.
Pelaku pasar pada pekan depan diperkirakan masih akan mencermati arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, perkembangan arus modal asing, serta dinamika geopolitik global. Selama sentimen positif terhadap ekonomi domestik tetap terjaga, rupiah berpeluang mempertahankan tren penguatannya dan bergerak stabil di bawah level Rp18.000 per dolar AS
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
