Semarang. iNewsSemarang.id - Matematika merupakan ilmu dasar yang dipelajari mulai dari sekolah dasar sampai kuliah. Matematika adalah ilmu penting yang banyak diterapkan pada bidang ilmu lain. Sebagai ilmu dasar dan banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tentu matematika mempunyai daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang menyukai dan enjoy dengan konsep matematika.
Pada masa kejayaan Islam, matematika merupakan salah satu ilmu yang berkembang dengan pesat. Perkembangan matematika sangat pesat pada masa dinasti Abbasiyah. Dalam sejarah Islam, telah lahir matematikawan muslim seperti Al Khawarizmi, Al Battani, Al Qalasadi, Al Biruni, Al Khazin, Al Karaji, dan masih banyak yang lainnya. Matematikawan muslim tersebut mempunyai kontribusi yang besar dalam perkembangan ilmu matematika saat ini.
Penemuan-penemuan matematikawan muslim menjadi warisan yang tak ternilai dan menjadi pedoman dalam mengembangkan matematika modern.
Perkembangan matematika tak lepas dari keingintahuan manusia akan makna yang terdapat pada firman-firman Allah SWT dalam Al Qur’an. Al Qur’an merupakan kitab suci umat Islam. Al Qur’an adalah kitab yang menjadi dasar hukum umat Islam dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Al Qur’an memberikan petunjuk bagi umat Islam untuk dapat menjelaskan hubungan manusia dengan Allah SWT, menjelaskan hubungan manusia dengan manusia, menjelaskan fenomena alam, menjelaskan hukum, menjelaskan ketentuan-ketentuan lain yang dibutuhkan dalam hidup manusia.
Pada hakikatnya Al Qur’an merupakan petunjuk bagi manusia karena Al Qur’an selalu menjadi kitab yang relevan dengan kehidupan manusia sampai akhir zaman.
Al Qur’an sebagai pedoman bagi umat Islam tidak hanya dalam beribadah saja tetapi juga dalam pengembangan ilmu. Ayat-ayat dalam Al Qur’an telah menerangkan dengan jelas tentang ilmu pengetahuan. Manusia tinggal menggali dan mengembangkannya saja. Ilmu matematika juga ilmu yang dikembangkan berdasarkan kajian Al Qur’an. Oleh karena itu, matematika tidak bisa lepas dari ayat-ayat Al Qur’an. Matematika pada zaman dahulu dikembangkan untuk menjelaskan dan melaksanakan perintah Allah SWT.
Pengkajian ilmu matematika dilakukan untuk penentuan waktu shalat, penentuan arah kiblat, penentuan zakat, menjelaskan masalah faraid (pembagian harta warisan), pengukuran dua kulah, pembuatan kalender, dan masih banyak yang lainnya.
Berikut beberapa ayat dalam Al Qur’an menjelaskan tentang konsep matematika:
1. Himpunan
Konsep himpunan dijelaskan dalam Al Qur’an Surat An-Nur ayat 45. Surat An Nur ayat 45 yang artinya “Dan Allah menciptakan semua jenis hewan dari air, maka sebagian ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS. An-Nur : 45].
Pada ayat tersebut disebutkan 3 (tiga) himpunan hewan; yaitu himpunan hewan yang berjalan di atas perut (ular, ulat, cacing, siput, lintah, dan lain-lain), himpunan hewan yang berjalan dengan dua kaki (ayam, burung, bebek, pinguin, dan lain-lain), dan himpunan hewan yang berjalan dengan empat kaki (sapi, kambing, kelinci, macam, dan lain-lain).
Dalam matematika, himpunan adalah kumpulan objek-objek yang mempunyai sifat yang didefinisikan secara jelas. Sifat yang jelas pada ketiga himpunan tersebut adalah berjalan di atas perut, berjalan dengan dua kaki, dan berjalan dengan empat kaki.
2. Penjumlahan dan sistem Penanggalan
Penjumlahan terdapat dalam Al Qur’an surah Al A’raf ayat 142. Terjemahan surah Al A’raf ayat 142 adalah “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. Dan berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: "Gantikanlah aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah, dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan" [QS. Al A’raf : 142].
Sedangkan Surah Al A’raf ayat 142 menceritakan tentang Nabi Musa a.s yang pergi ke bukit Sinai untuk bermunajat kepada Allah SWT. Nabi Musa a.s berada di bukit Sinai selama 30 malam dan ditambah 10 malam atau selama 40 malam untuk menerima wahyu Allah berupa kitab Taurat.
Dalam ayat tersebut dengan jelas terdapat konsep penjumlahan yaitu 30 + 10 = 40.
Penjumlahan dan sistem penanggalan dijelaskan dalam surah Al Kahfi ayat 25. Arti dari surah Al Kahfi ayat 25 adalah “Mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun" [QS. Al Kahfi : 25]. Pada surah Al Kahfi ayat 25 terdapat konsep penjumlahan yaitu 300 tahun + 9 tahun. Penulisan terpisah antara 300 tahun dan 9 tahun mempunyai arti tersendiri, yaitu penjelasan tentang penanggalan yang berbeda.
300 tahun menyatakan perhitungan tahun syamsiah sedangkan penambahan 9 tahun merupakan perhitungan tahun qomariyah. Dalam tahun syamsiah, satu tahun terdiri dari 365 hari sementara dalam tahun qomariyah, 1 tahun terdiri dari 354 hari. Tahun syamsiah 365 hari x 300 tahun = 109.500 hari. Jumlah hari dalam tahun syamsiah tersebut jika dikonversi ke tahun qomariyah maka menjadi 109.500 hari : 354 hari = 309,32 tahun dibulatkan menjadi 309 tahun. Penambahan 9 tahun menjelaskan tentang perhitungan tahun qomariyah.
Jadi penambahan tahun dalam surah Al Kahfi ayat 25 menjelaskan perbedaan sistem perhitungan tahun (sistem penanggalan).
Konsep penjumlahan dalam Al Qur’an juga terdapat dalam surah Al Baqarah ayat 196 yang menjelaskan tentang 3 + 7 = 10. Dalam Al Qur’an konsep penjumlahan dijelaskan secara urut mulai dari penjumlahan bilangan satuan (3 + 7 = 10 pada surah Al Baqarah [2] ayat 196), penjumlahan bilangan puluhan (30 + 10 = 40 surah Al A’raf [7] ayat 142), dan penjumlahan bilangan ratusan (300 + 9 = 309 pada surah Al Kahfi [18] ayat 25).
Jadi, Al Qur’an menjelaskan penjumlahan bilangan yang sederhana terlebih dahulu baru kemudian menjelaskan penjumlahan bilangan yang lebih besar.
3. Pengurangan
Konsep pengurangan terdapat dalam Al Qur’an surah Al Ankabut ayat 14 yang artinya “Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun. Kemudian mereka dilanda banjir besar, sedangkan mereka adalah orang-orang yang zalim” [QS. Al Ankabut : 14].
Surah Al Ankabut ayat 14 dengan jelas menyatakan bahwa “seribu tahun kurang lima puluh tahun” yang jika dituliskan dalam bahasa matematika menjadi 1000 – 50 = 950 tahun. Nabi Nuh telah berdakwah kepada kaumnya untuk menyembah Allah dengan berbagai cara dalam waktu yang sangat lama yaitu selama 950 tahun. Selama waktu tersebut, masih banyak kaum yang durhaka, tidak mau menyembah Allah. Oleh karena itu, Allah menurunkan azab kepada orang-orang yang durhaka.
4. Perbandingan, Bilangan Pecahan, dan Faraid
Bilangan pecahan juga terdapat dalam ayat-ayat Al Qur’an, yaitu pada surah An Nisa ayat 11. Terjemahan surah An Nisa ayat 11 adalah “Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha bijaksana” [QS. An Nisa : 11].
Kalimat “bagian harta waris seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan” dapat dituliskan dalam bentuk perbandingan sebagai berikut yaitu
Warisan anak laki-laki : warisan anak perempuan = 2 : 1
Perbandingan adalah membandingkan dua nilai atau lebih yang mempunyai ukuran yang sama. Perbandingan juga dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan yang paling sederhana. Perbandingan tersebut dapat bentuk pecahan menjadi :
Warisan anak perempuan / warisan anak laki-laki = 1/2
Setengah merupakan bilangan pecahan dimana 1 merupakan pembilang dan 2 merupakan penyebut. Bilangan pecahan dapat dituliskan dalam bentuk a/b dengan a dan b adalah bilangan bulat dimana b ≠ 0.
Surah An Nisa ayat 11 tersebut membahas tentang Faraid (ilmu waris). Ketentuan-ketentuan dalam pembagian harta waris dijelaskan secara detail dalam surah tersebut dengan menyebutkan bilangan pecahan. Bilangan-bilangan pecahan yang disebutkan dalam surah An Nisa ayat 11 yaitu setengah, dua pertiga, seperenam, dan sepertiga. Konsep faraid banyak menggunakan bilangan pecahan. Penjelasan pembagian harta warisan dalam Al Qur’an membuat matematikawan muslim ingin mempelajari dan mengembangkan tentang pembagian harta warisan yang benar menurut Islam.
Matematikawan muslim Al Khawarizmi menjelaskan tentang pembagian harta waris dalam kitab al Mukhtasar fi al Jabar wa al Muqabalah untuk memudahkan umat Islam dalam mempelajari ilmu Faraid.
Jadi, dalam Al Qur’an telah terdapat konsep bilangan pecahan yang bertahun-tahun kemudian diteliti dan dikembangkan oleh matematikawan muslim untuk penggunaan praktis.
Konsep perbandingan juga terdapat dalam Al Qur’an surah Al Anfal ayat 65 dan 66. yang artinya “Wahai Nabi (Muhammad)! Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir, karena orang-orang kafir itu adalah kaum yang tidak mengerti” [QS. Al Anfal ayat 65].
“Sekarang Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui bahwa ada kelemahan padamu. Maka jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh); dan jika di antara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar [QS. Al Anfal ayat 66].
Surat Al Anfal ayat 65 menjelaskan konsep perbandingan yaitu 20 : 200 dan 100 : 1000. Kedua perbandingan tersebut jika disederhanakan menjadi 1 : 10. Sedangkan dalam surah Al Anfal ayat 66 terdapat perbandingan 100 : 200 dan 1000 : 2000. Perbandingan tersebut disederhanakan menjadi 1 : 2. Pada surah Al Anfal ayat 62 perbandingan orang yang sabar dan orang yang kafir adalah 1 : 10.
Dan seiring waktu, Allah telah meringankan beban orang yang sabar dan berjuang di jalan Allah karena Allah melihat kelemahan diantara kalian sehingga perbandingan orang sabar : orang kafir adalah 1 : 2. Hikmah dari surat Al Anfal ayat 65 adalah agar umat muslim harus selalu tegar menghadapi orang kafir meski dalam perbandingan yang tidak seimbang.
5. Perkalian
Konsep perkalian terdapat dalam Surah Al Baqarah ayat 261 yang artinya “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui” [QS. Al Baqarah : 261].
Surah Al Baqarah ayat 261 tersebut menjelaskan tentang pahala bersedekah di jalan Allah. Konsep matematika dalam ayat tersebut adalah tentang perkalian yang terdapat pada kata “menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji”. Artinya ada 100 biji pada tiap bulir dan satu benih menghasilkan 7 bulir sehingga satu benih akan menghasilkan 7 x 100 = 700 biji. Jika dikaitkan dengan kandungan surah Al Baqarah ayat 261 maka bersedekah (mengeluarkan harta) di jalan Allah akan mendapatkan ganjaran pahala 700 kali lipat.
Konsep perkalian juga terdapat Surah Al An’am ayat 160. Terjemahan surah Al An’am ayat 160 adalah “Barangsiapa berbuat kebaikan mendapat balasan sepuluh kali lipat amalnya. Dan barangsiapa berbuat kejahatan dibalas seimbang dengan kejahatannya. Mereka sedikitpun tidak dirugikan (dizalimi) [QS. Al An’am : 160].
Surah Al An’am ayat 160 dengan jelas menceritakan tentang pahala yang akan diperoleh oleh orang-orang mukmin yang berbuat baik di hari pembalasan yaitu 10 kali lipat dari amalnya. Orang-orang yang berbuat jahat akan menerima balasan yang setimpal dengan perbuatannya.
Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang berbuat baik akan menerima pahala yang lebih banyak dari amalannya sementara orang yang berbuat jahat akan menerima balasan yang setimpal dengan perbuatannya (tidak lebih banyak atau tidak lebih sedikit).
Hal tersebut mengajarkan kepada kita agar selalu berbuat baik, sekecil apapun karena akan mendapatkan pahala yang berlimpah. Ayat tersebut juga menunjukkan kasih sayang Allah kepada umatNya.
Demikianlah beberapa konsep matematika yang bisa kita temukan dalam ayat-ayat Al Qur’an al-Karim. Jika kita membaca, mempelajari, dan menggali makna yang terdapat pada Ayat-ayat Al Qur’an maka kita akan selalu takjub akan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.
Manusia harus selalu bersyukur kepada Allah SWT atas turunnya Al Qur’an yang menjadi pedoman bagi umat muslim untuk menjalani kehidupan, memperoleh pengetahuan, dan beribadah dalam menggapai ridho dan surgaNya. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?
Penulis: Emi Siswanah, M.Sc, Dosen Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang.
Serial artikel Sains Ramadhan merupakan kerjasama iNewsSemarang.id dengan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Walisongo Semarang.
Editor : Miftahul Arief
Artikel Terkait