Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Menag Yaqut: UIN Walisongo Semarang Harus Menyiapkan Aktor Perubahan
Advertisement . Scroll to see content

Sains Ramadhan: Dimensi Ekologis Puasa yang Dikesampingkan

Senin, 18 April 2022 | 15:56 WIB
  • author Moh. Miftahul Arief
Sains Ramadhan: Dimensi Ekologis Puasa yang Dikesampingkan
(foto: pixabay)

The Great Disruption karya Francis Fukuyama (2016) telah mewanti-wanti kita, bahwa akar kerusakan di bumi bersumber dari empat hal: kemiskinan yang meningkat, kekayaan yang meningkat, kemerosotan nilai-nilai kultural dan religius, meningkatnya egoisme atau kepuasaan individualistis di atas kewajiban komunal.

Dari uraian sederhana itu kita menjadi tahu. Kita perlu “sistem pengendalian” atas egoisme manusia, keserakahan manusia, dan sifat konsumtif manusia. Puasa, yang merupakan “menahan diri dari makan dan minum serta yang membatalkan puasa mulai dari fajar hingga terbenamnya matahari” adalah salah salah satu sistem religi yang dapat berperan sebagai pengendali egoisme manusia, utamanya pola produksi dan konsumsi atas sumberdaya. 

Kita mesti memperluas pemahaman taqwa, tidak hanya sekedar ketakwaan secara ritual, tetapi juga ketaqwaan ekologis. Apalagi kata taqwa dalam al-Qur’an disebut sebanyak 259 kali dengan makna yang beragam, bergantung konteks yang dipersandingkannya. Karena pada Surat al-Baqarah 183, kata taqwa disandingkan dengan ibadah berpuasa, maka kita bisa menjangkau pemahaman yang lebih luas tentang dimensi ekologis dari puasa itu sendiri, sehingga makna takwa juga mengikuti dimensi yang dipersandingkan tersebut.

Editor: Miftahul Arief

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut