Dia juga memanfaatkan teknologi seperti YouTube, televisi, hingga kecerdasan buatan atau AI. "Saya memanfaatkan teknologi seperti YouTube, TV, dan AI untuk belajar bahasa," ungkapnya.
Namun, hasil belajar dari teknologi tetap dikonfirmasi kepada guru, untuk memastikan penggunaan bahasa yang tepat. Bagas juga mengandalkan latihan dengan memperbanyak jam terbang, agar lebih rileks ketika tampil.
"Ketika latihan, saya membayangkan sedang tampil di mimbar tilawah," kata peserta yang pernah menjadi juara pertama Tafsir Bahasa Inggris tingkat Provinsi Riau tersebut.
Meski baru pertama tampil di tingkat nasional, Bagas mengaku sangat optimistis menghadapi persaingan. "Kalau ditanya optimistis, 100 persen, Allahu Akbar," ujarnya penuh semangat.
Bagas berharap MTQ ini tidak berhenti sebagai ajang mencari juara, tetapi semakin mendekatkan masyarakat dengan Al-Qur’an. "Semoga even ini semakin memotivasi umat untuk semakin dekat dengan Al-Qur’an," pungkasnya.
Peserta lain adalah Fadli, asal Provinsi Jambi yang mengikuti cabang Tafsir Al-Qur’an Bahasa Indonesia. Da merasa nyaman dengan tempat yang disediakan panitia.
"Alhamdulillah ketika tampil tadi saya merasa tenang, tempatnya juga nyaman," kata Fadli usai tampil lebih dulu, di lokasi serupa.
Menurut Fadli, tantangan terbesar dalam perlombaan justru muncul ketika mendapatkan soal hafalan. Sehingga dirinya harus berusaha mengingat semaksimal mungkin.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
