“Alergi makanan sendiri merupakan respons imun spesifik tubuh terhadap makanan tertentu yang kemudian menimbulkan gejala merugikan,” jelas dr Galuh Hardaningsih dalam acara talkshow bertema Alergi pada Anak di Auditorium SMC RS Telogorejo, Semarang, Sabtu (5/9/2026).
Dalam kesempatan tersebut, talkshow juga menghadirkan narasumber dr Niken Kusumaningrum SDV mengangkat tema "DVE Dermatitis Atopic" dan dr Riza Sahyuni MKes SpA(K) bertemakan "Kupas Tuntas Asma pada Anak".
Menurutnya, pengenalan pola gejala dan pemicu menjadi penting agar orangtua tidak serta-merta menghindari berbagai jenis makanan tanpa dasar yang jelas.
“Dengan mengenali pola gejala, orangtua dapat lebih cermat membedakan keluhan yang mungkin berkaitan dengan alergi dan kondisi lain yang memiliki gejala serupa,” ujarnya.
Dia menjelaksan Urtikaria merupakan reaksi kulit yang ditandai munculnya bentol atau benjolan disertai kemerahan dan rasa gatal.
Bentol tersebut bisa muncul secara mendadak, berpindah-pindah di berbagai bagian tubuh. Kemudian menghilang dalam waktu kurang dari 24 jam tanpa meninggalkan bekas.
"Penyebab urtikaria pada anak yang paling sering justru adalah infeksi virus," ungkap Galuh. Sebab itu, dia meminta agar orangtua tidak perlu buru-buru menyimpulkan bahwa setiap biduran yang muncul setelah anak mengonsumsi makanan tertentu merupakan alergi makanan.
“Selain infeksi, urtikaria juga dapat dipicu reaksi alergi terhadap makanan seperti kacang, telur, dan susu. Obat tertentu, termasuk antibiotik, serta sengatan serangga juga dapat menjadi pemicu,” ujarnya.
Editor : Ahmad Antoni
Artikel Terkait
